Sumber foto: Merdeka.com
373 Poker - Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie pada Jumat (16/4/2021) menerima suntikan Vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Penyuntikan Vaksin Nusantara dilakukan langsung mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto kepada Aburizal Bakrie atau Ical.
Melalui akun media sosialnya, Aburizal Bakrie yang juga akrab disapa ARB ini mengungkapkan bahwa dirinya mendapat vaksin berbasis sel dendritik setelah diambil sampel darahnya delapan hari lalu.
“Saya termasuk yang pertama menjadi relawan untuk vaksin COVID-19 buatan anak bangsa ini,” tulis ARB di akun Instagram-nya hari ini.
Menurut ARB, dirinya bersedia disuntik vaksin yang belum mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena pernah berhutang nyawa kepada Terawan. “Karena beliau dengan metode cuci otak-nya pernah menyelamatkan saya dari serangan stroke yang fatal,” ujarnya lagi.
Dari situ, ia kemudian membela Terawan di publik #SaveDokterTerawan. Metode digital subtraction angiography (DSA) yang dilakukan Terawan belum teruji secara klinis. Akibatnya, Terawan diberhentikan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Setelah mendapat Vaksin Nusantara, apakah ada efek samping yang dialami ARB?
ARB mengklaim tidak ada efek samping setelah menerima Vaksin Nusantara
Juru bicara keluarga Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa mengatakan, setelah disuntik Vaksin Nusantara, ARB dan istrinya, Tatty, tidak merasakan efek samping apa pun. "Gak ada (efek samping). Malah tadi ketawa-ketiwi," kata Mara melalui pesan singkatnya, Jumat, 16 April 2021.
Melalui akun media sosialnya, ARB mengaku bukan satu-satunya yang pernah ditolong Terawan kemudian berusaha membalas budi dengan mengikuti penelitian Vaksin Nusantara. Menurut ARB, banyak tokoh lain yang mendukung pengembangan vaksin tersebut.
“Menurut saya, vaksin untuk COVID-19 ini tidak perlu dipertentangkan. Ini ikhtiar yang baik untuk kemanusiaan. Di bulan Ramadhan yang baik ini, mari kita berdoa semoga pandemik COVID-19 segera teratasi, dan kita bisa kembali beraktivitas dan berkarya seperti sedia kala.” ucap pria yang termasuk orang terkaya di Indonesia ini.
Selain ARB dan istrinya, ada juga anak dan sekretaris ARB yang juga mendapat suntikan Vaksin Nusantara hari ini.
ARB bersedia menjadi relawan untuk kebaikan orang lain dalam mengatasi pandemi COVID-19
Menurut Mara, ARB bersedia menjadi relawan vaksin yang diprakarsai Terawan semata-mata bukan untuk kepentingan pribadi. Ia pun berharap vaksin tersebut bisa berhasil dikembangkan dan manfaatnya dirasakan banyak orang.
“Jadi, menurut Beliau tak perlu dipertentangkan. Lihat saja hasil akhirnya dan didoakan semoga berhasil dan memberi manfaat,” kata Mara.
Ia menjelaskan, tidak ada pesan khusus dari Terawan setelah melakukan suntikan Vaksin Nusantara ke ARB dan keluarganya. Terawan hanya meminta ARB untuk kembali beraktivitas seperti biasa.
"Satu bulan lagi akan dipantau," ucapnya.
Sikap Terawan yang tidak mematuhi rekomendasi BPOM memancing tanda tanya dari masyarakat, termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pasalnya, dalam laporan pemeriksaan yang dirilis pada 14 April 2021, Kepala BPOM Penny K. Lukito sebenarnya menyarankan agar penelitian vaksin diulang dari tahap preklinik. Namun, Terawan bertekad untuk melanjutkan uji klinis II.
Ahli epidemiologi mengkritisi saat dalam tahap uji klinis, vaksin tidak perlu diendorse
Sedangkan dari sudut pandang ahli epidemiologi di Griffith University, Brisbane, Australia, Dicky Budiman, saat vaksin masih dalam tahap uji klinis, tidak perlu adanya endorsement seperti yang dilakukan oleh sejumlah pejabat dan pengusaha. Justru yang harus diperlihatkan kepada publik adalah bukti ilmiah berdasarkan hasil penelitiannya pada tahap I-III. Hasil uji klinis harus disampaikan dalam jurnal ilmiah agar dapat diakses dan ditinjau ulang oleh sesama peneliti.
“Dengan begitu muncul keyakinan bahwa produk tersebut aman, punya efikasi dan selanjutnya proses halal. Sehingga, keyakinan yang timbul berdasarkan data ilmiah dan bukan testimonial atau dukungan dari individu tertentu,” ujar Dicky melalui pesan suara. pada hari Jumat.
Dia menggarisbawahi bahwa dalam pembuatan vaksin, kepentingan lain seperti ekonomi dan politik tidak boleh didorong. Sebab, ini merupakan produk kesehatan dan akan dikonsumsi masyarakat.
“Ini kan menyangkut kesehatan seseorang. Kalau dalam konteks COVID-19, vaksinnya diberikan ke orang sakit,” ujarnya.
Sedangkan sel dendritik biasanya digunakan untuk pengobatan kanker otak. Cara ini berpotensi dikembangkan untuk vaksin COVID-19, namun, kata Dicky, tetap harus berdasarkan kajian ilmiah dan tidak dipaksakan.
Situs Poker Online, Poker88, Agen Judi Poker Online, 373poker











Tidak ada komentar:
Posting Komentar